Suatu hari, ada seorang penjual mendatangi seorang guru penjualan yang di masa mudanya adlah seorang penjual yang sangat luar biasa karena hampir selalu bisa menjual apa saja kepada setiap orang yang ditemuinya. Dia begitu disegani dan dihormati baik oleh teman maupun pesaingnya.
Si penjual itu bertanya pada guru tersebut,”Guru, saya ingin belajar padamu.. Bagaimana saya bisa menjual barang-barang saya pada orang-orang yang saya tawari?”
Guru tersebut menjawab,”Kalau kamu mau belajar tentang bagaimana bisa menjual barang-barangmu kepada orang-orang yang kamu tawari, bawalah sebongkah benda ini dan tawarkan pada penjual sayur di pasar berapa harga yang dia mau bayar untuk sebongkah benda ini.”
Dengan wajah diliputi kebingungan, si penjual itu pergi ke pasar dan menawarkan kepada para penjual sayur berapa harga yang mereka mau bayar untuk bongkahan benda tersebut. Ketika melihat benda tersebut, para penjual sayur berkata,”Apa! benda seperti ini Anda minta untuk dihargai berapa? Ini kan hanya sebongkah batu, tidak ada harganya, kami tidak mau membelinya!”
Suatu hari, ada seorang penjual mendatangi seorang guru penjualan yang di masa mudanya adlah seorang penjual yang sangat luar biasa karena hampir selalu bisa menjual apa saja kepada setiap orang yang ditemuinya. Dia begitu disegani dan dihormati baik oleh teman maupun pesaingnya.
Si penjual itu bertanya pada guru tersebut,”Guru, saya ingin belajar padamu.. Bagaimana saya bisa menjual barang-barang saya pada orang-orang yang saya tawari?”
Guru tersebut menjawab,”Kalau kamu mau belajar tentang bagaimana bisa menjual barang-barangmu kepada orang-orang yang kamu tawari, bawalah sebongkah benda ini dan tawarkan pada penjual sayur di pasar berapa harga yang dia mau bayar untuk sebongkah benda ini.”
Dengan wajah diliputi kebingungan, si penjual itu pergi ke pasar dan menawarkan kepada para penjual sayur berapa harga yang mereka mau bayar untuk bongkahan benda tersebut. Ketika melihat benda tersebut, para penjual sayur berkata,”Apa! benda seperti ini Anda minta untuk dihargai berapa? Ini kan hanya sebongkah batu, tidak ada harganya, kami tidak mau membelinya!”
Dengan perasaan kecewa, si penjual itu kembali ke guru tersebut dan berkata bahwa penjual sayur tidak mau membeli barang yang dia tawarkan karena benda tersebut hanyalah sebongkah batu.
Guru tersebut berkata,”Sekarang, pergilah ke penjual emas dan tawarkan benda ini, lalu tanyakan berapa harga yang dia mau bayar.”
Dengan wajah tidak bersemangat penjual tersebut pergi ke toko emas dan menawarkan bongkahan tersebut. Si pedagang emas meneliti bongkahan tersebut dengan seksama dan setelah sekian lama meneliti, dia mengatakan,”Saya mau membeli bongkahan ini dengan harga 1 miliar rupiah.”
Mata si penjual langsung terbelalak, dia sangat terkejut dan dengan rasa penasaran yang luar biasa, dia bertanya pada si pedagang emas,”Apa alasannya sehingga Anda mau menghargai bongkahan batu ini dengan harga yang begitu tinggi?” Pedagang emas tersebut berkata,”Apakah anda tidak tahu kalau bongkahan ini mengandung emas dengan kualitas terbaik di dunia? Karena itu saya mau membayar dengan harga 1 miliar rupiah.”
Dengan tergopoh-gopoh, si penjual pulang ke tempat sang guru untuk memberi kabar gembira tersebut. Dengan nafas tersengal-sengal, dia berkata pada sang guru,”Guru, pedagang emas itu mau membayar bongkahan batu itu seharga 1 miliar. Katanya bongkahan itu mengandung emas dengan kualitas terbaik di dunia.”
Sambil tersenyum bijak, sang guru berkata pada si penjual,”Itulah pelajaran berharga yang kamu peroleh tentang bagaimana menghasilkan penjualan. Kalau kamu menawarkan barang atau jasa kepada orang yang tepat, semakin besar peluangmu untuk bisa menjual kepada mereka.
welcome home
Selamat datang, kami mendapat kehormatan ketika rekan2 masuk dan melihat blog ini, didalam dunia dimana semua orang berbicara tentang keinginan mereka untuk meningkatkan berbagai aspek dalam hidup mereka (dimana kebanyakan dari mereka tetap dalam rutinitas hidup mereka), dan rekan2 adalah seorang yang jarang ada, karna rekan2 mengambil tindakan!
Tujuan kami adalah menyediakan informasi dan ketrampilan yang akan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup anda.
Agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal, anda harus memutuskan 3 hal ini : 1. menyerap informasi penting yang disampaikan , 2. memberdayakan kemampuan anda sendiri untuk menciptakan perubahan dalam semua aspek hidup anda melalui usaha yg penuh disiplin, 3. selalu menikmati diri!
Ambil keputusan sekarang juga untuk membuat diri anda berdaya serta bertanggung jawab untuk pencapaian maksimum, ingat sumber dan segala alat bantu tidak akan menciptakan perubahan--- anda yang melakukan perubahan tersebut.
hormat saya,
masters of change
Rabu, 08 Oktober 2008
Menjual "MERCY"
Selasa, 07 Oktober 2008
investasi ceria part 1
selamat dan sukses untuk setiap rekan2 yg telah bergabung di investasi ceria, terlebih lebih buat rekan2 yg sudah menerima pembayaran (hehee jangan lupa traktir kita yah), buat rekan2 yg belum bergabung bisa segera meluncur ke tkp nih, cukup bawa duit 25 ribu kita bisa dapatkan kesempatan mendapat 1jt, 10jt bahkan 1 milyar dengan waktu yg tidak terlalu lama, dengan sistem yg sangat simple bahkan bisa dikatakan mudah , segera daftarkan diri anda disini, dan nikmati bagaimana rupiah mengalir ke rekening anda, ok
Senin, 06 Oktober 2008
dari redaksi
wuih, akhirnya liburan telah lewat dan kita akan masuk dalam rutinitas pekerjaan kita kembali, semoga batre2 kita sudah full di cash kembali, jadi kita bisa mulai semua pekerjaan kita dengan tenaga yg baru, hati yg baru, pikiran serta yang paling penting... semangat yg baru, penting sekali agar kita bisa punya semangat serta motivasi yg kuat untuk berhasil (kecuali rekan2 sudah merasa diatas dan tidak perlu perubahan lagi.. or sudah pensiun hehe),buat kita yg ingin perubahan terkadang mungkin kita merasa bosan dengan rutinitas kita, kerja tanpa henti, atasan marah2, peluang didepan mata yg tiba2 menguap, suasana ditempat kerja yg tidak kondusif, persaingan bisnis yg kotor, mungkin karna bosan didepan komputer seharian, pekerjaan yg monoton cape dee..., kadang mungkin kita sudah melewati banyak hal dan banyak waktu dan hanya melihat kalau apa yg kita hasilkan sangat tidak sepadan dengan apa yg kita kerjakan(stress bgt yah), hehehe, tenang kawan, life is beautiful, hidup itu indah, mulai hari kita dengan bersyukur, banyak hal2 yg baik yg sudah terjadi yg seharusnya kita syukuri, dan ingat itu yg sudah terjadi masih ada hari ini dan hari esok dmana banyak hal lainya akan terjadi so mulai berharap yg terbaik terjadi bagi kita.
wuih, akhirnya liburan telah lewat dan kita akan masuk dalam rutinitas pekerjaan kita kembali, semoga batre2 kita sudah full di cash kembali, jadi kita bisa mulai semua pekerjaan kita dengan tenaga yg baru, hati yg baru, pikiran serta yang paling penting... semangat yg baru, penting sekali agar kita bisa punya semangat serta motivasi yg kuat untuk berhasil (kecuali rekan2 sudah merasa diatas dan tidak perlu perubahan lagi.. or sudah pensiun hehe),buat kita yg ingin perubahan terkadang mungkin kita merasa bosan dengan rutinitas kita, kerja tanpa henti, atasan marah2, peluang didepan mata yg tiba2 menguap, suasana ditempat kerja yg tidak kondusif, persaingan bisnis yg kotor, mungkin karna bosan didepan komputer seharian, pekerjaan yg monoton cape dee..., kadang mungkin kita sudah melewati banyak hal dan banyak waktu dan hanya melihat kalau apa yg kita hasilkan sangat tidak sepadan dengan apa yg kita kerjakan(stress bgt yah), hehehe, tenang kawan, life is beautiful, hidup itu indah, mulai hari kita dengan bersyukur, banyak hal2 yg baik yg sudah terjadi yg seharusnya kita syukuri, dan ingat itu yg sudah terjadi masih ada hari ini dan hari esok dmana banyak hal lainya akan terjadi so mulai berharap yg terbaik terjadi bagi kita.
Saya ingat suatu cerita yg pernah diceritakan mantan bos saya sewaktu dulu saya bekerja di bidang penjualan, penjualan itu ibarat kita mengambil kartu dari setumpuk kartu remi, dimana kita harus mencari kartu 1 kartu as dari 52 lembar kartu tersebut dimana untuk setiap orang mempunyai peluang yg berbeda beda , bagi si A tarikan ke 5 ia sudah dapat kartu as, bagi B tarikan ke 13, bagi C tarikan pertama pun ia sudah dapat kartu as, bahkan si D harus menunggu sampai tarikan ke 47, nah penjualan pun merupakan hal yg sama, kadang kita harus menunggu sampai orang ke 30 yg kita temui baru terjadi transaksi penjualan, mungkin bagi sebagian orang pertemuan pertama pun cukup untuk terjadinya transaksi.
sama untuk setiap hal yg kita lakukan dimanapun dan apapun yg kita perbuat, semuanya tidak ada yg sia2 , masalahnya terkadang kita berhenti pada tarikan ke 5 atau 15 atau 30 dimana mungkin pada tarikan ke 6, 16 atau 31 kita akan menemukan kartu as , so guys, jangan pernah menyerah, mungkin pada tarikan ke 7 kita merasa bosan, tarikan ke 17 kita merasa kita tidak mampu, tarikan ke 27 kita merasa apa yg kita lakukan sia2, tarikan ke 28 itu tarikan kita yg terakhir dan kita menyerah, setelah itu orang lain masuk mengantikan kita dan mereka memulai dari tarikan ke 29 dan boooooooom kartu as ditemukan dan mereka menikmati hasil dari semua jerih payah yg kita sudah lakukan , yg kita tingalkan hanya karna kita merasa itu sia2
maju terus, jangan dengarkan setiap kata2 yg negatif yg orang lain keluarkan, percaya akan kemampuan kita dan terus berusaha, saat kita merasa lemah dan putus asa, berhentilah sejenak tapi jangan menyerah, setelah itu.. bangun dan lanjutkan hidupmu, ok
salam perubahan
Sebatang Bambu
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”
Petani menjawab, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.
Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
Sabtu, 04 Oktober 2008
Apa jadinya jika anda punya email!!!
Dikisahkan seorang pekerja melamar pekerjaan ke Microsoft sebagai office boy. Manager HRD mewawancarainya dan melihat kemampuannya membersikan lantai sebagai bagian dari test. “Kami akan memperkerjakan kamu”, kata manager HRD, “Tuliskan alamat email anda, saya akan mengirimkan aplikasi untuk diisi beserta pemberitahuan kapan anda mulai bekerja”.
Pelamar menjawab bahwa ia tidak memiliki alamat email. “Maafkan saya”, kata manajer HRD, “Jika anda tidak memiliki email berarti anda tidak ada, dan ini berarti kami tidak bisa memberikan pekerjaan kepada seseorang yang tidak ada”.
Dikisahkan seorang pekerja melamar pekerjaan ke Microsoft sebagai office boy. Manager HRD mewawancarainya dan melihat kemampuannya membersikan lantai sebagai bagian dari test. “Kami akan memperkerjakan kamu”, kata manager HRD, “Tuliskan alamat email anda, saya akan mengirimkan aplikasi untuk diisi beserta pemberitahuan kapan anda mulai bekerja”.
Pelamar menjawab bahwa ia tidak memiliki alamat email. “Maafkan saya”, kata manajer HRD, “Jika anda tidak memiliki email berarti anda tidak ada, dan ini berarti kami tidak bisa memberikan pekerjaan kepada seseorang yang tidak ada”.
Pelamar pergi dengan langkah lunglai tanpa pengharapan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di dompetnya hanya berisi 10$. Kemudian dia memutuskan untuk pergi ke supermarket dan membeli 10kg tomat. Kemudian ia menjual tomat tersebut ke rumah-rumah didekatnya. Kurang dari 2 jam ia berhasil menggandakan modalnya.
Kemudian ia mengulangi hal ini sebanyak 3 kali dan kembali ke rumah dengan 60$ di tangannya. Ia menyadari bahwa ia dapat hidup dengan cara ini. Kemudian hari-hari berikutnya ia bangun lebih pagi dan pulang lebih larut. Dan uangnya menjadi dua atau tiga kali lebih banyak tiap harinya. Ia memutuskan membeli sebuah gerobak, kemudian truk, sehingga ia memiliki armada sendiri untuk pengiriman.
5 tahun kemudian ia telah menjadi salah seorang pedagang makanan terlaris di Amerika. Dengan tambahan kekayaan ia mulai memikirkan tentang keluarganya dan masa depannya. Ia memutuskan untuk mencari asuransi jiwa.
Kemudian ia memanggil seorang broker asuransi. Setelah memutuskan rencana asuransi yang dibeli, sang Broker menanyakan alamat emailnya. Dan dengan singkat ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki email. Sang broker menjawab dengan heran, “tanpa memiliki email saja anda sudah memiliki perusahaan yang sukses, dapatkah anda bayangkan apa jadinya anda jika anda memiliki sebuah email?”
“Tentu saja saya tahu”, jawab si miliuner baru, “Saya akan menjadi office boy di Microsoft”.
Moral dari kisah ini :
Internet & Email tidak selalu merupakan solusi hidup anda
Jika anda bekerja keras, tanpa internet pun anda bisa menjadi miliuner
Jika anda memiliki email berarti anda mungkin saja lebih cocok jadi seorang office boy daripada untuk menjadi miliuner. :)
Jumat, 03 Oktober 2008
kesulitan hidup
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak Perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak Sabar menunggu
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak Perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak Sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi, ” jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. “Apa maksud semua ini, ayah?” tanya sang anak. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuK berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. “Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya. “Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?”
shay
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:
Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:
Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.
Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat
ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.
Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.
Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.
Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.
Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan
berakhir. Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam
hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.
Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!” Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.
Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay” Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang
berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.
Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.
Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.
